Bangkit dari Puing Cinta Semua Episode
27 Semua Episode
EP 13Episode 13
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 14Episode 14
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 15Episode 15
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 16Episode 16
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 17Episode 17
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 18Episode 18
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 19Episode 19
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 20Episode 20
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 21Episode 21
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 22Episode 22
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 23Episode 23
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 24Episode 24
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Tonton Kapan Saja, Di Mana Saja
Buka

