Bangkit dari Puing Cinta Semua Episode
27 Semua Episode
Episode 11 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 12 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 13 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 14 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 15 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 16 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 17 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 18 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 19 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Episode 20 - Bangkit dari Puing Cinta
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Eksklusif di Aplikasi: Buka Gratis
Buka

