Bangkit dari Puing Cinta Semua Episode
27 Semua Episode
EP 1Episode 1
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 2Episode 2
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 3Episode 3
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 4Episode 4
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 5Episode 5
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 6Episode 6
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 7Episode 7
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 8Episode 8
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 9Episode 9
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 10Episode 10
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 11Episode 11
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
EP 12Episode 12
Sehari semalam aku menunggu di luar UGD, hanya untuk menerima kabar kepergian ibuku. Aku menelepon suamiku, Adam, tapi desahan wanita yang justru terdengar. Dia pasti sedang asyik dalam pelukan wanita lain. Air mata mengalir di pipiku saat aku berusaha menahan suara agar tak bergetar. 'Seratus juta dolar.' Suara marahnya terdengar di telepon. 'Elizabeth, apa aku terlalu memanjakanmu selama tiga tahun ini? Sampai kamu merasa berhak memeras aku layaknya perampok?' 'Jangan bilang ibumu cuma kaget sedikit. Sekalipun dia benar-benar mati, nyawanya nggak bernilai seratus juta dolar, paham?' Sebelum panggilan berakhir, suara wanita itu kembali terdengar: 'Sayang, aku udah nggak tahan lagi...'
Tonton Kapan Saja, Di Mana Saja
Buka

